Sabtu, 11 April 2015

Contoh PTS “Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Di SDN 158/VII Taman Dewa II In House Training (IHT)”.

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)

 JUDUL
 “Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Di SDN 158/VII Taman Dewa II In House Training (IHT)”.

Oleh: IMRAN, S.Pd PENGAWAS SEKOLAH DASAR NIP : 196908261990071001 UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PENDIDIKAN KECAMATAN MANDIANGIN KABUPATEN SAROLANGUN 2015 LEMBAR PERSETUJUAN

 ABSTRAK

 Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan karena peneliti melihat kenyataan yang ada di lapangan bahwa masih ada beberapa guru yang belum mampu menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal yang dituntut dalam Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Keadaan in dapat dilihat sebagai temuan pada saat pelaksanaan tugas kepengawasan di sekolah binaan. Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah agar guru-guru disalah satu sekolah binaan dapat menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal dan sejauh mana in house training dapat meningkatkan kemampuan guru sebagai pendekatan yang digunakan pengawas. Penelitian tindakan sekolah ini di lakukan di SDN 158/VII Taman Dewa II sebagai salah satu sekolah binaan dengan jumlah guru mata pelajaran sebarnyak 13 orang, sedangkan pelaksanaan penelitian tindakan ini terdiri dari dua siklus. Hasil Penelitian mnunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal dan in house training efektif sebagai pendekatan yang digunakan untuk menetapkan kriteria ketuntasan minimal karena guru semakin aktif dan tumbuhnya rasa tanggung jawab untuk menetapkan kriteria ketuntasan minimal pada setiap bidang studi yang diajarkan..

 BAB I PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang Masalah Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan telah bergulir dengan ditetapkannya Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,standar sarana dan prasarana,standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan. Dalam standar penilaian pada KTSP diantaranya setiap sekolah dalam hal ini guru setiap awal semester tahun pelajaran lebih dahulu menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) namun pada pelaksanaan kegiatan supervisi di SDN 158/VII Taman Dewa II sebagai salah satu sekolah binaan, pengawas mendapat satu temuan permasalahan yakni ada diantara guru belum dan bahkan ada yang tidak mampu menetapkan KKM. Saat ini pengawas sekolah dituntut untuk memiliki kompetensi penelitian pengembangan, yang tidak cukup dianggap hanya sekedar penerima pembaharuan dari hasil penelitian para peneliti dari kalangan perguruan tinggi , melainkan ikut bertanggung jawab serta dan berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui penelitian tindakan sekolah yang berkaitan dengan tugas pokok pengawas sekolah yaitu memantau, menilai, membina dan melaporkan serta melaksanakan tindak lanjut hasil kepengawasan. Berdasarkan hasil temuan dan sesuai dengan tugas pokok pengawas maka peneliti berupaya meningkatkan kinerja guru untuk menetapkan KKM melalui In house training (IHT).

 B. Identifikasi Masalah Dari hasil supervisi pengawas, maka faktor penyebab ketidakmampuan guru dalam menetapkan KKM adalah sebagai berikut : 1. Guru belum mendapatkan informasi yang jelas tentang bagaimana menetapkan KKM. 2. Untuk menetapkan KKM hanya dengan memperkirakan saja. 3. Hanya melihat KKM yang ditetapkan sekolah lain yang kemudian ditetapkan di sekolah tempat tughasnya.

 C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka rumusan masalah yang berkaitan dengan judul adalah: “Bagaimana IHT dapat Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Di SDN 158/VII Taman Dewa II.

 D. Pemecahan Masalah Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas bahwa dengan IHT dapat meningkatkan kemampuan guru menetapkan KKM.

 E. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menetapkan KKM di SDN SDN 158/VII Taman Dewa II. Manfaat untuk guru : Sebagai pedoman untuk menetapkan KKM pada pada awal semester tahun pelajaran berikutnya. Manfaat untuk kepala sekolah : Dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan kinerja dalam membina guru yang menjadi tugas kepala sekolah sebagai penyelia untuk melakukan supervisi di satuan pendidikan. Manfaat untuk pengawas : Dengan penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan pengawas dalam melaksanakan tugas kepengawasan di satuan pendidikan binaan. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) Perangkat Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas dari Departemen Pendidikan Nasional, dijelaskan : Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme Penetapan KKM yang isinya sebagai berikut : a. Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ). KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan Kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi kurva. Acuan Kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampui Kriteria ketuntasan minimal. Kriteria Ketuntasan Minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki barakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM. Kriteria Ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan Pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap. Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Kriteria Ketuntasan Minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar ( LHB ) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik. BAB III. METODE PENELITIAN A. Pentahapan Penelitian tindakan NOO URAIAN APRIL MEI MINGGU KE 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Penyusunan Proposal V V 2 Penyusunan Instrument V 3 Pengumpulan data V 4 Pelaksanaan Tindakan V V V V V V 5 Analisis data V V 6 Penyusunan laporan V V 7 Penyajian laporan V B. Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SDN 158/VII Taman Dewa II Kecamatan Mandiangin kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi . dilaksanakan selama 2 bulan terhitung dari minggu ke 1 bulan April sampai dengan minggu ke 5 Bulan Mei 2014. C. Subyek penelitian Subjek penelitian dari penelitian ini adalah guru SDN 158/VII Taman Dewa II berkolaborasi dengan kepala Sekolah dan Pengawas. D. Tindakan Penelitian ini merupakan penelitian Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) , ada pun tahap-tahap yang akan dilakukan dalam penelitian PTS ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin.Model Kurt Lewin seperti disebutkan dalam Dikdasmen ( h.18,2003 ) bahwa tahap tahap tersebut atau biasa disebut siklus ( Putaran ) terdiri dari empat komponen yang meliputi : 1. Perencanaan ( Planning ) 2. Aksi / tindakan ( Acting ) 3. Observasi ( Observing ) 4. Refleksi ( Reflecting) E. Teknik Pengumpulan data a. Data Sumber data penelitian ini adalah guru , sedangkan jenis data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang meliputi : • Data Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan hasil Siswa setelah siklus I • Hasil observasi terhadap proses pelaksanaan pembelajaran b. Teknik Pengumpulan data Data dikumpulkan melalui observasi, catatan harian, tes kemampuan b. 1. Observasi Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas Guru selama pembelajaran berlangsung. Didalam observasi diantaranya akan melihat peningkatan proses pembelajaran yang meliputi : peningkatan frekuensi dan atau kualitas pertanyaan siswa kepada guru maupun sesama temannya selama interaksi belajar mengajar, adanya peningkatan kerjasama dalam melaksanakan tugas, keberanian siswa dalam memberikan jawaban pertanyaan yang diajukan oleh guru. Dalam peningkatan Aktifitas hasil Belajar siswa guru mengamati : perasaan keingintahuan, perasaan puas dan tidak puas, peningkatan jumlah, jenis dan atau mutu produk belajar yang dihasilkan siswa. Membandingkan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari guru tersebut. b. 2. Data Tes Kemampuan Data ini merupakan data kuantitatif, yang diambil setiap siklus. Tes formatif diberikan setiap berakhirnya siklus, hal ini supaya setiap berakhirnya pelaksanaan siklus dapat diketahui kemajuan dan perkembangan yang didapat oleh siswa dengan Penggunaan In House Training dan hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan, pertimbangan, bahan refleksi, untuk merencanakan pelaksanaan siklus berikutnya. F. Teknik Analisis Data 1. Data Observasi. Data ini diambil melalui pengamatan yang dilakukan oleh peneliti sebagai orang yang terlibat aktif dalam pelaksanaan tindakan dan dibantu oleh partner sebagai observer . Adapun kegiatan guru yang diamati setiap lima menit sekali dengan tanda checklist , diolah dengan menggunakan rumus : A X 100 % B Dimana : A adalah Frekuensi aktivitas yang teramati B adalah frekuensi semua aktivitas pada lembar observasi. 2. Data Jurnal Harian Menyimpulkan kejadian selama penelitian berlangsung. 3. Data Tes Kemampuan • Menentukan nilai dengan pemberian nilai skala 100 • Instrumen APKG 1 dan APKG 2 SIKLUS TINDAKAN Langkah-langkah PTS yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Langkah-langkah PTS seperti Gambar 1 berikut Catatan: Pengamatan dilanjutkan Evaluasi. Pelaksanaan Refleksi Perencanaan Pelaksanaan Pengamatan Dan Evaluasi Refleksi Perencanaan SIKLUS I ? Pengamatan dan Evaluasi Gambar 1. Langkah-langkah PTS Siklus PTS meliputi empat langkah yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi, serta refleksi. Masing-masing langkah dijelaskan sebagai berikut. Siklus I Perencanaan Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah • Merencanakan penelitian dengan menggunakan In House Training (IHT). • Meningkatkan pemahaman guru dalam membuat dan menetapkan KKM • Mengembangkan format APKG 1 dan APKG 2 Tindakan • Menerapkan tindakan mengacu pada In House Training yang telah disiapkan • Melakukan penilaian kemampuan guru dalam pembuatan dan penetapan KKM • Melakukan penilaian kemampuan guru dalam strategi pembelajaran Pengamatan • Melakukan observasi dengan meng- gunakan format observasi Refleksi • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah, dan waktu dari tindakan yang telah dilakukan • Melakukan pertemuan untuk membahas hasil penilaian hasil APKG 1 dan APKG 2 • Memperbaiki tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya • Evaluasi tindakan I Indikator keberhasilan siklus I • Instrumen-instrumen yang telah disiap- kan pada siklus I dapat terlaksana semua • Guru memahami cara membuat dan menetapkan KKM melalui In House Training • Hampir ≥ 60 % Guru mendapatkan nilai ≥ 60 pada tes APKG 1, dan berdasarkan APKG 2 hampir ≥60 % • Hampir ≥ 60 % siswa mendapatkan nilai ≥ 60 • Kegiatan untuk siklus selanjutnya dikerjakan setelah melihat hasil refleksi siklus I. DAFTAR PUSTAKA Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. CV. Pustaka Setia: Bandung Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2008. Penetapan KKM Bahan Diskusi TOT BINTEK KTSP. Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. 2008. Bahan Bantuan Teknis PTK dan Workshop Pengembangan Kurikulum. Jakarta. Emzir. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Raja Grafindo Persada : Jakarta. Institut Pertanian Bandung. 2007. Training. http://web.mb.ipb.ac.id/pies/training, diakses pada tanggal 31 Agustus 2008 Krisnadira. 2008. Publik Training vs Inhouse Training Mana Yang Lebih Efektif. http://www.krisnandira.com/2008/03/14/public-training-vs-inhouse-training-mana-lebih-efektif/, diakses pada tanggal 31 Agustus 2008 Lembaga Pengembangan Auditor Internal. 2008. Inhouse Training. http://lpauditorinternal.org/index.php, diakses pada tanggal 31 Agustus 2008 Lestari, Tita. 2000. “Merencanakan dan Melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah”. Disampaikan pada Kegiatan Pembekalan Pembimbing Penelitian Tindakan Sekolah di Bogor.